KESEPAKATAN KELAS

Oleh : Imam Heriyanto, S. Pd

Pembelajaran yang menarik dan inovatif menjadi sebuah impian bagi semua guru. Mimpi yang sempurna tersebut tertuang dalam sebuah perencanaan pelakasanaan pembelajaran. Namun apa yang terjadi? pada umumnya adalah perencanaan tidak sesuai dengan realita pelaksanaan pembelajaran. Peserta didik ada yang sulit diatur, semaunya sendiri, suasana kelas tidak kondusif dan masih banyak lagi yang membuat pembelajaran tidak berjalan sesuai dengan perencanaan.

Sebenarnya apa yang terjadi? Hal tersebut terjadi karena tidak adanya pemahaman bersama antara guru dan peserta didik, walaupun didalam kelas sudah tata tertib atau aturan kelas. Apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang guru? Menarik untuk dijawab, kesepakatan kelas jawabanya. Mengapa Kesepakatan kelas, mengapa bukan aturan atau tatatertib sekolah.

Ada beda antara kesepakatan kelas dan aturan kelas. Jika aturan kelas sifatnya memaksa dan berasal dari guru atau dari sekolah, berbeda dengan kesepakatan kelas. Kesepakatan kelas diambil dari usulan dari peserta duduk ataupun guru yang disepakati bersama tanpa ada unsur paksaan, terburu-buru dalam mengambil kesepakatan. Dan yang paling menarik adalah di dalam kesepakatan kelas tidak ada hukuman ataupun reward. Sehingga kesepakatan kelas bersifat mengikat namun tidak memaksa.

Lantas bagaimna cara membuat kesepakatan kelas? Berikut ini adalah langkah-langkah membuat kesepakatan kelas :

  1. Mensosialisasikan terlebih dahulu kepada peserta didik tujuan dari membuat kesepakatan kelas
  2. Meminta pendapat satu persatu murid menyampaikan kesepakatan apa saja yang harus di ikuti semua penghuni kelas
  3. Setelah usulan anak-anak dirangkum, memberi pemahaman kepada mereka bahwa guru juga mempunyai hak untuk memberi usulan, namanya juga kesepakatan bersama, Nah disini saya menambahkan beberapa hal yang belum terakomodasi di dalam kesepakatan tersebut
  4. Kemudian mendiskusikan konsekuensi dari pelanggaran terhadap kesepakatan yang telah disetujui itu. Menjelaskan alasan-alasan diterapkan konsekuensi. Konsekuensi yang telah disepakati berupa hukuman fisik push-up sebanyak 5 kali setiap melanggar salah satu kesepakatan kelas
  5. Menulis hasil kesepakatan di kertas dalam group whatsapp dalam deskripsi

Setelah selesai semuanya, maka tindakan saya selanjutnya memberitahukan bahwa ini wajib ditaati oleh seluruh penghuni kelas baik seluruh murid maupun guru sendiri dan saya tidak terburu-buru memaksakan murid untuk terus menerapkan semua kesepakatan kelas namun secara perlahan-lahan hingga menjadi kebiasaan.

Percakapan yang saya bangun adalah komunikasi positif dengan cara tidak menggunakan bahasa “dilarang”, “tidak boleh” dan “dihukum” setiap ada usulan dari murid dengan ada kata-kata tersebut maka saya akan merubah dengan kalimat positif sehingga terbentuk kesepakatan kelas yang positif pula.



Tantangan dan keberhasilan yang saya dapati masih perlu upaya pembiasaan yang maksimal mengingat kebiasaan selama ini sangat bertolak belakang denga kesepakatan kelas yang sudah di sepakati ini merupakan kendala namun tidak boleh pesimis tetap harus optimis dengan secara sabar dan perlahan untuk melakukannya sehingga menjadikan ini sebagai pembiasaan positif di dalam kelas

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PROFIL PENULIS

PENDIDIKAN GURU PENGGERAK